Life Lesson #5

20 03 2013

Pagi ini, saya gak masak apa2, karena lg pengen makan rotibakar buatan mama tercinta. Suami juga lagi pengen sarapan soto didekat kantornya. Jadilah setelah minum secangkir teh manis panas, kamipun berangkat dari rumah.

Sesampainya dirumah ortu, ternyata… Tumben2an, nggak ada persediaan roti! Jadilah saya berangkat ngajar dlm keadaan lapar :p. Stlh sampai, karena kelaparan, saya langsung meng-sms mas2 tukang soto langganan yg bisa delivery. Nasi soto 7ribu perak kenyang! Alhamdulillah…

Iseng2 saya kirim foto si soto kesuami. Ternyata dia nggak jadi sarapan soto karena warung sotonya penuh bgt sampe dia ngga kebagian duduk. Dan ternyata…. Dia lagi sarapan roti yg dibeli di koperasi kantornya! Langsung teringat rencana sarapan kami pagi ini, yg pd akhirnya kenyataan pun bertukar. Karena semua hal bs terjadi atas kehendak Allah ta’ala. Saat itu hanya 1 kata yg bisa saya ucapkan: “Allahu Akbar!”

Inilah pelajaran pagi ini dari Allah, rukun iman yg kelima, yaitu kewajiban kita utk beriman kepada takdir Allah. Kita boleh berencana, wajib berusaha & mohon pertolonganNya, dan jgn lupa utk bertawakal & menerima apapun yg jadi kehendakNya.

ما أصاب من مصيبة فى الأرض ولا فى أنفسكم إلا فى كـتب من قبل أن نبرأهاۚۚإن ذلك على الله يسر

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))





Zuhud: Cara Mudah Menjadi Kaya

31 01 2013

ImageTeringat pemandangan beberapa hari yang lalu di jalanan, yaitu seorang ayah, ibu dan dua orang anaknya sedang berboncengan sambil tertawa lepas di sebuah sepeda motor bebek sederhana selepas mengikuti pengajian di masjid sebuah perumahan elit di daerah Cileungsi, Bogor. Terlepas dari kenyataan bahwa tindakan berboncengan 4 orang itu melanggar peraturan lalu lintas, saya sungguh kagum terhadap kesederhanaan keluarga itu yang “hanya” mengendarai motor sehingga menjadi pemandangan kontras di tengah mobil-mobil bagus di perumahan tersebut.

Walaupun “hanya” mengendarai sebuah motor bebek, bukan berarti mereka orang yang kekurangan lho, justru mereka adalah orang yang kaya, bahkan lebih kaya daripada kita yang selalu merasa tidak puas dengan harta yang dimiliki. Mereka tidak merasa perlu menggunakan mobil yang mewah, karena toh motor saja sudah cukup bisa mengakomodir kebutuhan mereka. Kebutuhan ya, bukan keinginan. Keluarga tersebut mungkin saja mampu membeli mobil, tapi tempat usaha sang ayah sebagai seorang businessman tidak jauh dari rumah. Si ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak suka meninggalkan rumahnya tanpa alasan syar’i, dan anak-anaknya yang masih kecil bersekolah tidak jauh dari rumahnya sehingga cukup dengan berjalan kaki atau bersepeda saja. Kelebihan penghasilan mereka gunakan untuk tabungan masa depan dan bersedekah, yang merupakan tabungan amal seorang muslim untuk hari kiamat nanti.

Jadi berdasarkan kebutuhan hidup mereka, apakah sebuah motor saja cukup? Ya tentu saja. Apakah keluarga itu ingin menambah kepemilikan sebuah mobil?  Nah dari pertanyaan tersebut sudah terlihat bahwa hal ini merupakan keinginan, karena kebutuhan kendaraan mereka sudah tercukupi dengan motor tersebut. Mereka sudah merasa tercukupi dengan terpenuhinya semua kebutuhan pokok mereka, dan mereka bersyukur kepada Allah karenanya, sehingga dengan ini mereka adalah orang-orang yang kaya, yang hidup berkecukupan, semoga Allah senantiasa merahmati keluarga tersebut.

Inilah yang dinamakan zuhud, yakni meninggalkan hal-hal (yang bersifat mubah/ dibolehkan) yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

Dari Sahl bin Sa’ad beliau mengatakan,

Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkanlah kepadaku suatu amalan jika aku mengamalkannya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaiku dan manusia juga mencintaiku?” Maka beliau menjawab, “Zuhudlah dari perkara dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang ada pada manusia maka manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Wallahu a’lam bishshowab.





Pengalamanku Pergi ke Semarang dan Jogja – a story by Nabil, a 2nd grade Elementary School student

3 01 2013

Pendahuluan:

Kalau biasanya narasi perjalanan di blog ini adalah tulisan saya berdasarkan perspektif saya, maka kali ini narasi ditulis oleh anak saya Nabil, berumur 8 tahun dan duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, dengan sedikit editan yang bersifat struktural dari saya seperti penggunaan tanda baca dan ejaan kata. Oh ya, ini tulisan perdananya lhoo… Enjoy! ;)

========================================================================

NAB002

Liburan akhir tahun kemarin aku pergi ke Semarang dan Jogjakarta. Karena di perjalanan lama banget, aku bosan, jadi  aku main game di hpku. Aku makan pagi yang kesiangan di restoran Pringsewu. Sebelum makan, aku, papa, mama dan adik jalan-jalan di bagian belakang restoran yang ada pantainya. Lalu habis foto-foto kembali ke meja makan, terus aku jalan lagi dan main game lagi di hpku karena lama banget di perjalanan. Akhirnya aku makan siang di Pekalongan. Setelah itu aku jalan lagi. Di mobil aku nonton film karena perjalanannya lama. Akhirnya malam aku sampai di rumah adiknya nenekku lalu semua makan malam lalu aku tidur.

522889_4895204893858_625445547_n

Kayak Hogwarts Express ya?

 

Paginya habis sarapan aku berangkat ke Jogja. Tujuan pertama kita ke Museum Kereta Api di Ambarawa. Kalau mau naik kereta api uap harus sama rombongan, yang deket harganya Rp 10 juta, kalau yang jauh yang ada penginapan harganya mungkin Rp 20 juta. Aku enggak naik kereta api karena enggak browsing di computer, jadi aku cuman lihat-lihat saja.

 

 

 

 

Taman di Ullen Sentalu

Terus aku makan siangnya di restoran Ayam Goreng Sambel Kosek Magelang, terus aku ke museum Ullen Sentalu di Kaliurang, Jogja. Di sana aku melihat-lihat foto 3 dimensi raja dan ratu kerajaan Solo dan Jogja, juga kain-kain batik. Aku minum jahe yang dikasih gratis dari museum. Habis istirahat dan beres-beres di rumah adiknya kakekku di Jogja, kita makan malam di bakmi godog Shibishu. Masak mi-nya lama banget terus aku makannya banyak banget sampai aku kenyang sekali. Terus aku pergi ke Malioboro. Disana aku dibeliin baju batik, terus aku beli gantungan kunci buat teman-teman dan saudaraku pakai uangku sendiri. Habis aku foto-foto di Malioboro, aku ke mobil dan pulang ke rumah terus tidur.

ini makamnya Ki Hajar Dewantara

ini makamnya Ki Hajar Dewantara

Paginya habis mandi dan beres-beres aku sarapan nasi gudeg bu Amad terus aku berangkat ke makam eyang buyutku di Taman Wijayabrata terus ke Museum Anak Kolong Tangga. Disana aku beli mainan bubble dan aku juga beli kartu ninjago untuk memperbanyak koleksiku. Terus aku ke Mirota karena nenekku dan mamaku mau nyari baju. Aku, papaku dan adikku jalan-jalan aja terus ke café minum susu coklat sama makan otak otak. Terus karena jauh parkirnya, pulangnya aku, adikku, nenekku dan mamaku naik becak sampai di mobil. Tiba tiba papaku sampai di mobil lari-lari cepat sekali kaya super hero flash. Terus aku makan siang di restoran JeJamuran. Disana parkirnya jauh tapi ada orang yang nganterin pake mobil Grand Max yang ac-nya dingin.

Adikku dan papakuHabis itu kita pergi ke candi Borobudur. Sampai di sana langsung foto-foto. Aku cuma naik sampai lantai 3 soalnya di atas penuh sekali. Pas udah selesai aku mau turun, aku mau keluar tapi bingung karena ada banyak pasar, habis beli oleh-oleh akhirnya sampai di mobil terus aku pulang lagi ke Semarang.

Aku di Museum Anak

 

 

 

 

 

 

 

adikku suka sekali es krim coklat!

adikku suka sekali es krim coklat!

Besoknya aku pergi ke Kota Lama lihat-lihat gedung-gedung tua. Disana panas sekali jadi habis itu aku ke café Oen, aku makan es krim coklat enak sekali. Terus aku pergi ke Lawang Sewu. Disana aku masuk ke ruang bawah tanah. Kita disana harus bayar Rp 20ribu terus pakai sepatu boot dan senter soalnya di ruang bawah tanah ada airnya tapi tidak dalam dan gelap. Disana seru sekali, mamaku ditakut-takutin sama adikku. Aku harus masuk lewat jendela ruang bawah tanah soalnya udah nggak ada jalan lagi. Guide-ku ngasih tau disana ada penjara berdiri. Seru deh! Terus aku makan siang terus ke kuil Sam Poo Kong. Disana panas sekali, aku foto-foto aja kaya lagi di China. aku pulang ke rumah lagi karena besoknya aku harus pulang ke Jakarta.

483343_4895203813831_1470658505_n

Baaa!!! Ada aku dibalik jendela penjara bawah tanah

Gereja Blenduk 541061_4890129366973_982452614_n photo 1 di Kota Lama Samarang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Besok paginya aku cuma sarapan sedikit terus aku pulang ke Jakarta. Aku bosan lagi di mobil jadi aku main game di hp mamaku. Di jalan aku sarapan di restoran Mbok Berek terus aku makan siangnya di McD dekat rumah terus akhir nya aku sampai di rumah. Aku senang sekali liburan di Semarang dan Jogja. Kapan-kapan aku mau kesana lagi naik pesawat supaya cepat :)   .

 The end





Jangan Mudah Percaya! (part 2)

12 12 2012

Hasil diskusi dengan teman pagi ini:
Pembodohan generasi muda berupa penjejalan materi pelajaran yg terlalu banyak (sehingga mengurangi kualitas otak utk bernalar), acara2 TV (dan iklan konsumtif) yg tidak mendidik & tidak bermoral, serta supply makanan tdk bergizi berupa junk food itu sesungguhnya merupakan konspirasi yg bertujuan kepada pengkerdilan bangsa Indonesia di lingkungan internasional di masa datang.

Sebagai perbandingan, kurikulum SD di Indonesia itu setara dengan kurikulum SMP di negara2 yang lebih maju, bahkan beberapa materi dalam kurikulum SMA di Indonesia itu baru diajarkan di universitas untuk jurusan tertentu! Anak-anak SD di Amerika Serikat baru belajar mengeja bahasa Inggris, dimana bahasa tersebut merupakan mother tongue mereka, sedangkan anak SD di Indonesia sudah belajar bahasa Inggris, walaupun untuk pemahaman bahasa Indonesia saja mereka masih terbatas. Bernalar dalam bahasa Indonesia saja mereka belum bisa maksimal. Dengan kata lain, sistem pendidikan yang sekarang ini bukannya mencerdaskan bangsa, tapi malah membodohi bangsa.

Benarkah hipotesa tersebut? Kita bisa buktikan dengan mengawasi sendiri perkembangan anak2 kita, jangan menyerahkan sepenuhnya kepada institusi yg tidak mengutamakan perkembangan nalar & akhlak.

Jangan mudah percaya dengan sistem pendidikan, karena bagaimanapun juga sistem itu dibuat oleh manusia, yang mempunyai tujuannya masing-masing. Sistem yang paling terpercaya bagi setiap orang adalah sistem pendidikan yg kita susun untuk buah hati kita, karena tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak2nya.

20121212-110715.jpg





Jangan mudah percaya!

4 12 2012

Selain sejarah tentang Palestina dan Israel, video tersebut juga menceritakan kejatuhan khilafah Islam di Turki yang menghancurkan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah, sehingga kini negara-negara tersebut (kecuali Saudi Arabia) menggunakan sistem sekuler dalam hukum dan pemerintahannya.

Masih teringat di kepala saya, pelajaran sejarah internasional di bangku sekolah tentang gejolak di Timur Tengah pasca perang dunia. Hal yang harus dihapalkan berulang kali adalah bahwa Mustafa Kamal Pasha adalah pahlawan negara Turki dalam menumpas pemerintahan yang lalim. Padahal, ternyata justru dia bekerjasama dengan Inggris untuk menggulingkan khilafah Islam yang pada saat itu berkedudukan di Istanbul, sehingga kemudian Turki “diberi kemerdekaan” oleh Inggris dengan Mustafa sebagai presidennya. Dengan sistem sekuler tentunya.

Mengerikan saat saya mengetahui betapa pemerintah dapat memberikan pemahaman2 tertentu untuk membentuk pola pikir kepada generasi muda melalui materi pembelajaran di sekolah. Fakta sejarah dapat diputarbalikkan begitu saja untuk membentuk opini peserta didik mengenai suatu hal tertentu.

Contoh kasus tersebut tentunya menjadi refleksi bagi saya sebagai orangtua, bahwa saya tidak boleh cuek dengan pelajaran anak-anak saya di sekolah. Semua buku pelajaran harus saya baca back to back. Saya juga harus kritis terhadap standar kompetensi yang ditentukan oleh Kemendiknas.

Intinya, saya tidak boleh mudah percaya dengan program pendidikan pemerintah.

Sad but true.





Menggugat Nasionalisme

1 12 2012

20121201-210738.jpg

“INDONESIA!!!”

Malam ini teriakan itu begitu membahana dimana-mana, mulai dari stadion Bukit Jalil, timeline, sampai depan televisi di rumah. Seluruh rakyat Indonesia begitu kompak membela timnas tercinta yang sedang berlaga di Kompetisi Sepak Bola piala AFF di Malaysia, atas nama nasionalisme.

Seluruh rakyat Indonesia, baik penggemar sepakbola maupun yg tidak suka sepakbola (seperti saya) setia menonton & ikut mendoakan kemenangan timnas Indonesia, atas nama nasionalisme.

Seluruh rakyat Indonesia, baik pendukung PERSIJA, PERSIB, PERSEBAYA maupun tim lainnya di liga Indonesia malam ini meneriakkan satu nama, INDONESIA, atas nama nasionalisme.

Mengharukan saat semangat nasionalisme bisa menjadi pemersatu bangsa seperti yang kita lihat malam ini. Mengharukan saat begitu banyak cinta terhadap bangsa & negara ditunjukkan malam ini.

Tapi…
Dimanakah nasionalisme itu saat terjadi kerusuhan di Sampang?
Dimanakah nasionalisme itu saat terjadi bunuh-membunuh di Lampung?
Dimanakah nasionalisme itu saat seseorang menikam saudaranya?
Dimanakah nasionalisme itu saat pelaku korupsi beraksi?
Dimanakah nasionalisme itu saat tawuran pelajar?
Dimanakah nasionalisme itu saat kita tak lagi ingat bahwa kita adalah saudara?

Nasionalisme tidak dibuktikan dengan berteriak-teriak di stadion.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan menghujat negara lain.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan bernyanyi.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan bendera, bahasa ataupun simbol lainnya.

Nasionalisme dibuktikan dengan cinta. Cinta terhadap Allah dan ciptaanNya.





Sawarna, Laboratorium Alam bagi Anak

24 11 2012

“Ke Sawarna? Sama anak-anak? Yakin?”

Pertanyaan semacam itulah yang kami dengar saat orang-orang menanggapi rencana kami pergi ke Sawarna saat long weekend kali ini. Walaupun perjalanan dan kondisi alamnya cukup berat bagi anak-anak, kami tetap bertekad untuk pergi ke Sawarna, dimana anak-anak bisa belajar banyak hal melalui pengamatan langsung terhadap alam.

Sawarna adalah nama sebuah desa di Kecamatan Bayah, provinsi Banten. Waktu tempuh ke Sawarna kira-kira mencapai 7 jam perjalanan dari Jakarta lewat rute Ciawi – Cibadak – Pelabuhan Ratu – Bayah, dan 9 jam perjalanan lewat rute Serang – Pandeglang – Malingping – Bayah. Karena berangkat dari Cibubur, maka jelas kami memilih rute Pelabuhan Ratu, tapi mampir terlebih dahulu untuk wisata kuliner sarapan bubur ayam Bunut yang terkenal itu di depan alun-alun kota Sukabumi. Hanya dengan 12,500 rupiah per porsi, perut yang kosong langsung terasa hangat dan kenyang :) .

Pantai Cisolok, Pelabuhan Ratu

 

Perjalanan menyusuri pantai selatan Pelabuhan Ratu memang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan di tempat kami beristirahat untuk makan siang di atas tebing pantai Cisolok, pemandangannya begitu indah sehingga kami merasa betah untuk berlama-lama berada di Pondok Lesehan yang menyuguhkan menu utama seafood itu. Setelah memenuhi isi perut hanya dengan Rp 25,000 per orang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Sawarna.

 

Setibanya di Sawarna, kami melewati jembatan gantung yang terkenal itu untuk memasuki Desa Sawarna. (Maaf ya nggak ada fotonya, karena sibuk memegangi si kecil yang ketakutan melewati jembatan yang bergoyang-goyang, hehehe…) Mobil tidak bisa melewati jembatan tersebut, jadi harus parkir di tempat parkir yang disediakan lalu masuk ke desa dengan berjalan kaki atau naik ojek. Dari jembatan itu ke pantai terdekat (Pantai Ciantir atau Pantai Pasir Putih) kira-kira 1,5km. Desa Sawarna merupakan perpaduan antara daerah pegunungan, persawahan, perkebunan dan pantai. Hal ini membuatnya menjadi obyek wisata dan pembelajaran alam yang unik.

Tampak depan Villa Batara

Kami menginap di Villa Batara dengan harga 150 ribu rupiah per orang, sudah termasuk fasilitas makan 3x/ hari, dispenser air panas dan kopi/ teh. Jarak dari penginapan kami ke Pantai Ciantir kira-kira 200m. Di dalam wilayah Desa Sawarna banyak terdapat penginapan (homestay), namun kesemuanya itu tanpa AC, karena listrik agak sulit di daerah tersebut dan juga cuacanya tidak panas, sehingga para tamu sudah cukup merasa nyaman dengan kipas angin (lagipula, siapa yang mau berlama-lama didalam kamar dan melewatkan keindahan pantai disana? ;) ). Tapi kalau anda ingin penginapan yang ber-AC, maka anda dapat mencari penginapan di luar Desa Sawarna, yakni di pinggir jalan raya Bayah. Penginapan yang di pinggir jalan raya ini rata-rata menyediakan fasilitas parker gratis di depan bungalow, AC, televisi dan air panas untuk mandi. Namun, selain lebih mahal, lokasinya tentu lebih jauh dari pantai, sehingga untuk bolak-balik mungkin anda harus menggunakan jasa ojek.

 

Ciantir Beach: the private beach :)

Siang itu kami habiskan untuk bermain-main di Pantai Ciantir. Seluruh rasa penat pada hari itu terbayar lunas di pantai ini. Pasir putihnya yang lembut, pantai yang luas dan bersih membuat anak-anak betah untuk berlama-lama bermain ombak dan pasir. Pantai ini merupakan surga bagi para surfer karena ombaknya yang tinggi dan pantainya yang aman dari batu karang membuat mereka bisa melakukan berbagai manuver surfing.

 

 

 

Sunset at Tanjung Layar Beach

Setelah sore hari, kami berjalan menyusuri pantai tersebut sejauh 2km menuju ke Pantai Tanjung Layar untuk menikmati sunset. Pantai yang terkenal akan batu layar dan barisan karang pemecah ombak ini merupakan surga bagi para fotografer yang hendak hunting foto sunset. (tips: jika anak anda tidak terbiasa berjalan jauh, sebaiknya anda menggunakan jasa ojek).

 

 

 

Keesokan paginya, tadinya kami hendak kembali menyusuri pantai sejauh 3km untuk menikmati sunrise di Pantai Legon Pari dan eksplorasi Gua Lalay. Namun karena sepertinya anak-anak terlalu lelah, maka pagi itu kami kembali bermain di pantai Tanjung Layar dan Pantai Ciantir. Jika air sedang surut, kita bisa berjalan menyeberangi laut untuk berfoto dan eksplorasi di sekitar batu layar. Jangan lupa untuk memegangi anak-anak saat menyeberang, karena ada beberapa tempat yang licin. Di area batu layar ini banyak terdapat binatang dan tumbuhan koral yang tentunya sangat menarik untuk dieksplorasi oleh anak-anak sebagai pembelajaran bagi mereka.

activity on the beach

 

Sawarna Rice Field

Coconut garden on the way to the beach

 

Tanjung Layar Beach

 

 

 

 

 

 

Karang pemecah ombak di balik batu layar

 

 

 

 

 

 

Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari perjalanan kali ini. Jika anak-anak belajar tentang dunia sains secara langsung, maka inilah yang kami pelajari, mudah-mudahan bermanfaat yaa…:

  1. Memberi obat anti mabuk perjalanan bagi anak dan sedia kantong plastik kosong sebelum melakukan road trip, khususnya ke Sawarna, karena jalanan menuju ke pantai biasanya berkelok-kelok tajam.
  2. Membawa buku pengetahuan/ ensiklopedi yang berisi pengetahuan seputar daerah yang akan dijelajahi untuk pembekalan bagi anak. Kali ini saya membawa buku tentang pantai laut, dimana sebelumnya kami membaca bersama terlebih dahulu barulah kemudian melakukan observasi secara langsung di pantai yang merupakan laboratorium alami. Pada liburan kali ini, anak-anak belajar tentang fenomena tebing dan pantai, pasang-surut air laut serta kehidupan pantai koral.
  3. Selalu memastikan anak-anak berada dalam jangkauan ketika sedang berada di pantai, karena kita tidak akan pernah tahu fluktuasi besarnya ombak.
  4. Fleksibel dengan rencana semula, bersedia berkompromi dengan kondisi anak dan selalu siap dengan rencana cadangan.
  5. Tetap sedia dana cadangan secukupnya walaupun dalam rangka liburan hemat.

Atas: pemandangan depan saat bersantai di saung pinggir Pantai Ciantir
Bawah: pemandangan belakang saung








%d bloggers like this: