Ikan Nila Bakar

7 01 2012

Disclaimer:
Artikel ini sama sekali bukan iklan dan gak disponsori oleh pihak manapun yah..
———————————
Setelah hampir 1 bulan, baru hari ini saya menggunakan perangkat masak Happycall yg merupakan kado dari suami tercinta (ciyeehh). Saya pun memutuskan untuk mencoba masakan grilled , yakni ikan nila bakar. Mudah masaknya, nggak perlu repot nyalain arang segala, cukup dimasak diatas kompor.

Saya share resepnya dibawah ini ya…

Bahan:
1kg ikan nila, cuci bersih dan beset kedua sisinya (note: belilah ikan yg masih hidup supaya segar, lalu langsung olah ketika sampai dirumah)
Kecap manis
Margarine

Bumbu halus:
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 butir kemiri
1 potong gula merah (yg dibeli di supermarket kan udah potongan)
Garam secukupnya

Rendaman:
20ml Air asam jawa
1 buah jeruk nipis
2sdm minyak goreng

Cara masak:
– bersihkan ikan, lalu beset kedua sisinya supaya nanti bumbu meresap.
– bumbui ikan dengan bumbu halus dan bahan rendaman hingga rata. Masukkan kedalam kulkas dan biarkan selama 1 jam.
– olesi kedua permukaan Happycall dengan margarine hingga rata.
– masukkan ikan, masak hingga setengah matang dgn dibolakbalik.
– olesi kedua permukaan ikan dengan kecapmanis sesuai selera hingga merata ke seluruh body si ikan.
– panggang bolakbalik hingga matang.
– sajikan dengan sambal terasi dan lalapan.

Happy cooking! 

20120107-151156.jpg





Yang Baik dan Yang Benar

5 01 2012

Apakah hal yang baik itu pasti hal yang benar? Apakah kebenaran itu selalu baik? Apakah hal baik yg kita lakukan sekarang ini sudah benar? Hehehe… Terasa tergelitik ya? Yuk kita diskusi bareng ya…

Sekarang ini sedang rame-ramenya pembahasan di berbagai media tentang kisah si terdakwa remaja pencuri sendal yg kini tengah menghadapi proses peradilan. Di awal tahun 2011 lalu media juga diwarnai dengan berita nenek pencuri sarung yg juga melalui proses peradilan. Seperti halnya berita tahun lalu, masyarakat meminta agar AAL demikian nama sang terdakwa, dibebaskan. Salah satu upaya yg booming dan terbukti berhasil adalah “Gerakan Seribu”, atau “Gerakan Sejuta”, dan hal inilah yg dilakukan oleh masyarakat, sehingga kini terdapat ribuan sandal jepit di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta.

Jika AAL terbukti bersalah atas pencurian, maka berdasarkan pasal 361 KUHPidana sepatutnyalah ia memperoleh hukuman yg sesuai, walaupun kemudian terdapat keringanan karena ia masih dibawah umur. Mengenai nilai sendal jepit yg hanya lima ribu rupiah itu bukan merupakan unsur penghapus kesalahan dalam hukum. Hukum hanya melihat kesesuaian antara aturan yg berlaku dengan perilaku terhadap aturan tersebut. Jika terdapat pelanggaran terhadap ketentuan hukum yg berlaku yg kemudian terbukti secara sah dan meyakinkan, maka kemudian sanksi pun berlaku. Tidak ada pengecualian. Jadi kalau ada gerakan bebaskan AAL karena sendal yg dicuri itu “tidak seberapa” jika dibandingkan dengan hasil korupsi yg milyaran rupiah, ya menurut saya itu tidak tepat. Hukum adalah hukum yg harus ditegakkan. Tidak peduli kejahatan itu bernilai 1 trilyun, 100 juta, 1 juta atau seribu rupiah, tetap harus diproses sesuai dengan hukum yg berlaku. Masalah sanksi yg diberikan ya tergantung pada kebijaksanaan sang hakim yg menangani perkara tersebut.

Nah sekarang tentunya nurani kita pun terusik, dimana rasa keadilan itu dianggap telah hilang, karena pada saat terdakwa perkara pidana senilai ribuan rupiah harus mengalami proses hukum, terdakwa bahkan terpidana perkara korupsi senilai ratusan ribu dollar masih bisa bebas dan jalan-jalan ke luar negeri! Kalau sudah begini, apakah ketentuan hukum pidana tadi masih dianggap baik? Hehehe, tapi ingat yah bahwa ketentuan pidana sebagai hukum material adalah satu hal, sedangkan law enforcement nya merupakan hal yg sama sekali berbeda. Jadi kira2 ini masalah ketentuan hukumnya atau pelaksanaannya (law enforcement) yah? 😉

jadi rakyat biasa seperti kita ini harus gimana dong supaya didengar oleh mereka yg “di atas” sebagai pelaku law enforcement tadi?

Well, tentunya dengan tetap melakukan berbagai upaya advokasi yg sesuai dengan hukum yg berlaku! Walaupun gerakan seribu sendal untuk bebaskan AAL ini dinilai baik dalam situasi politik seperti sekarang ini, namun tindakan ini tidak benar karena bertentangan dengan ketentuan hukum yg berlaku. Hal ini tidak ada bedanya dengan jika anda hendak minta pembebasan seorang terdakwa koruptor yg tengah menjalani persidangan. Seyogyanya kita menghormati proses hukum yg berjalan. Selama sidang belum berakhir, belum ada putusan, berarti sang terdakwa masih belum bisa dianggap bersalah. Ingat presumption of innocence yg dianut sistem hukum kita.

Jadi kalau menurut saya yg sekali lagi hanya mau menggelitik nurani kita semua, sebaiknya slogan “bebaskan AAL” itu lebih disempurnakan lagi agar tetap bisa beradvokasi tanpa mengesampingkan kebenaran, misalnya “gerakan 1000 sendal untuk proses hukum yg adil bagi SEMUA”, “bebaskan AAL jika koruptor juga bebas”, dsb. Semoga kita semua bisa senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan benar.

Salam gelitik 😉





Pejabat Negara: Melayani atau Dilayani?

4 01 2012

Berapa banyak dari kita, rakyat biasa yang pernah berurusan dengan pejabat atau aparat negara? Berapa banyak dari kita, rakyat biasa yang punya orangtua, anak, suami, istri, kerabat, teman, pacar atau TTM pejabat negara?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan profesi ataupun instansi tertentu, tidak juga menggeneralisir nya. Tulisan ini juga tidak hendak berbicara mengenai politik atau hukum. Tulisan ini hanya ingin sedikit menggelitik nurani para pembacanya, yg mudah-mudahan ada yg termasuk pejabat atau aparat negara.

Pernahkah anda melihat oknum berseragam yg nyegat kendaraan angkutan seperti truk dan angkutan umum di tengah jalan raya lalu mendapat sejumlah uang dari supirnya? Atau mendapati oknum berseragam yang nagih sejumlah uang tertentu dari pemilik kios di pasar tradisional? Atau saat anda komplain karena adanya biaya tertentu saat pengurusan KTP dijawab oleh sang pejabat, “Aturan disini memang begitu, saya pejabat yg menentukannya”? Atau saat anda komplain kepada pejabat penjaga loket yg sepertinya tidak terlalu membantu ada yg menghampiri lalu berkata, “Hati-hati, jangan macem2 sama pejabat negara”?

Berbagai kejadian yg pernah saya alami tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah yg namanya pejabat negara itu terbuat dari emas atau berlian? ataukah mereka memiliki kasta yg berada di atas kita, rakyat biasa? Apakah memang kita harus “takut” terhadap para pejabat negara yang suka petentang petenteng itu? Sebenarnya apa sih tugas dan tanggung jawab para pejabat negara itu? Darimana sih anggaran negara yg dialokasikan untuk gaji para pejabat negara itu berasal? Dan akhirnya… Jadi, apakah pejabat negara itu harus melayani atau dilayani?

Baik sekolah formal maupun informal yang saya pelajari selama hidup saya, saya mendapati bahwa pejabat negara itu harus MELAYANI MASYARAKAT. Kalau belum tahu bagaimana pelayanan publik yg seharusnya dilakukan yah tinggal studi banding ke bank swasta terdekat, tidak perlu jauh-jauh ke Eropa ataupun Amerika. Sistem manajemen SDM di bank swasta itu benar2 dikelola secara profesional dengan berorientasi pada kepentingan konsumen, atau dapat juga disebut sebagai kepentingan publik, sedemikian rupa sehingga pada akhirnya membentuk sifat dan perilaku yg profesional dari karyawan maupun manajemennya. Hal ini didukung juga oleh David Osborne dalam karyanya Reinventing Government yang pada intinya mengatakan bahwa pemerintahan yg baik itu seharusnya berjalan dengan profesional sebagaimana halnya sebuah perusahaan swasta. Dan ini sudah dipraktekkan oleh beberapa negara-negara maju, sebagai contoh yaitu semboyan “To protect and to serve” yang diimplementasikan dengan tepat oleh Kepolisian Amerika Serikat.

Semua orang ingin dihargai, baik rakyat biasa maupun pejabat negara. Namun “penghargaan” itu tentunya akan datang dengan sendirinya jika kita juga menghargai orang lain, bukan dengan paksaan melalui tindakan represif ataupun aksi petentang petenteng tadi. Ah… ini pelajaran PMP sewaktu kita di Sekolah Dasar dahulu bukan? Oke, berarti asumsi saya, teman-teman sekalian para pejabat negara sudah ingat kembali yah pelajaran tersebut. Sekali lagi, saya bukan mau mendiskreditkan, menghakimi ataupun mengajari. Saya hanya rakyat biasa yang ingin menggelitik sebagaimana saya tergelitik malam ini untuk menulis.

Salam gelitik 😉

 





The Other Side of Singapore

4 01 2012

Selamat pagi!

Tulisan ini lebih ditujukan kepada anda yang sudah mengunjungi Singapore lebih dari 1x, atau berdiam disana untuk waktu yg agak lama (semingguan lah). Jika bosan dengan hal yg itu-itu saja di Singapore, silahkan tengok ide di tulisan ini.

Di awal Desember 2011 kemarin, saya kembali mengunjungi negeri singa tersebut,  namun kali ini tidak bersama anak-anak, sehingga saya kemudian ingin mencoba beberapa pengalaman baru. Saya share satu2 yah…

1. The Chinese Garden

Cukup dengan naik Green line MRT arah Joo Koon lalu turun di stasiun Chinese Garden, maka anda sudah tiba di lokasi tersebut. Kunjungilah tempat ini di pagi hari, yah berangkatnya setelah sarapan, kira2 jam 7 berangkat dari downtown SG, dengan lama perjalanan kurang lebih 30-45 menit Aktivitas yg bisa dilakukan di tempat ini di pagi hari yaitu olahraga dan hunting foto.

Udaranya suegerrrr, padahal ini taman di tengah kota lho!

Jangankan taman2 di tengah kota Jakarta. Kebun Raya Bogor aja kalah segarnya, soalnya kalau di Bogor kan kendaraan masih boleh masuk. Nah kalau disini dijamin segar dan bebas polusi. Di pagi hari ini sempatkan juga meneliti berbagai kolam (atau danau buatan?) disana, dan dapatkan para kura2 yg sedang asyik bermain. Kalau di siang hari, kura2 ini biasanya ngumpet 😉

Biaya masuk? GRATISSS !!!

Singa yang menyemburkan api :p

2. Merlion Park dan Esplanade Drive

Merlion Park mah bukan the other side atuh!

Mungkin itu yang terlintas di benak anda pertama kali. Namun cobalah untuk mengunjungi tempat ini di malam hari untuk memperoleh ambience yg berbeda dalam foto anda. Cobalah juga untuk mengambil beberapa gambar dari sepanjang Esplanade Drive lalu berkunjung ke kedai kopi di kolong jembatan sambil menikmati alunan live music. Hmmm… so exotic!

 

3. Orchard Road

Nah, nggak mungkin nggak kesini kan kalau jalan-jalan ke Singapore? Konon kabarnya 70% foreign shopper di daerah ini berasal dari Indonesia! Wow hebat ya? Tapi diantara 70% itu, kalau kecapekan belanja terus ngapain? Here’s some ideas:

Mau? 😉

 

Makan es potong sambil duduk di pinggir trotoar. Di seputaran Lucky Plaza, ada beberapa kakek2 penjual es ini yg siap sedia melayani para pembeli. Harganya? Only S$ 1 each, and one won’t be enough! hahaha seger banget!

 

 

 

Nongkrong di Killiney Kopitiam. Di coffeeshop tradisional yg terletak di Killiney Road (k.l. 500m dari Orchard Rd) ini wajib coba kaya french toast dan teh tarik nya. Benar2 lezat dan menyegarkan! Untuk roti dan minuman kira2 S$ 3 – 4 lah. Buat yg belum makan siang, ada juga beberapa menu lain yg lebih “berat”.

 

4. Kampong Glam

Cobalah untuk mengunjungi daerah yang mayoritas dihuni oleh penduduk muslim ini di malam hari. Lalu kunjungi the Sultan Mosque (Masjid Sultan) di daerah tersebut. Menara masjid ini memiliki lampu dengan berbagai warna yang senantiasa berganti setiap saat. Bertolak dari masjid, terdapat berbagai hal yang menarik sepanjang pedestrian walk di belakang masjid tersebut, seperti toys museum, distro dan bangunan khas arsitektur peranakan yg colorful dan menarik untuk diabadikan.

 

Nah demikianlah the other side of Singapore kali ini, semoga bisa menjadi sisi lain dalam travelling anda. See ya! 😉

Special thanks to @ogieanakbaik untuk infonya tentang espotong dan chinese garden di sini .





Wisata kuliner, pantai dan sejarah di Banten

2 01 2012

Libur tlah tiba. Ya, liburan sekolah anak-anak sekaligus long-weekend pada tanggal 24-26 Desember 2011 kemarin memang terlalu menarik jika dilewatkan begitu saja di rumah. Lalu kami pun merencanakan liburan dengan menginap di daerah Carita. Dari hasil riset kecil2an yang kami lakukan, ternyata beberapa resort dan penginapan di wilayah Anyer sudah tidak menyenangkan untuk bermain di pantai, karena white sandy beach nya sudah habis tersapu ombak beberapa tahun yang lalu. Hiks hiks… 😦 Dan akhirnya kami pun memperoleh penawaran menarik untuk paket long weekend kemarin dari Mutiara Carita Cottages.

Merasa sayang untuk hanya menghabiskan waktu di pantai saja, maka kami berangkat jam 6 teng pada hari Sabtu pagi itu, lalu menuju ke Banten Lama, Serang (exit tol Serang Timur). Banten Lama terletak kurang lebih 10 km dari gerbang tol. Kita akan disambut gapura bertuliskan “Selamat Datang di Kota Banten Lama”. Jangan khawatir, papan penunjuk arah ke Banten Lama banyak ditemui sepanjang jalan kok 🙂 (Note: jika anda akan pergi ke Banten Lama di pagi hari, memang jalanan sangat lancar dan tidak macet, namun anda harus mempersiapkan bekal sarapan dari rumah, karena dapat dikatakan tidak ada tempat makanan yg recommended disini 😦 )

Banten Lama adalah sisa-sisa kejayaan Sunda jaman dahulu. Letaknya yg strategis membuat pelabuhan Banten ramai dengan perdagangan internasional, dan sempat menggantikan Malaka sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara. Lada menjadi komoditas utama untuk diekspor ke Eropa. Bahkan karena rempah yang satu ini, Kesultanan Banten sampai menempatkan dua duta besarnya di London! Tapi sekarang sisa-sisa kejayaannya cuma tinggal puing-puing saja. Karena Belanda sudah membumihanguskan Banten.

Di Banten Lama yang merupakan kota kuno jaman kerajaan Sunda jaman dahulu tersebut, kami mengunjungi beberapa situs disana, diantaranya yaitu Benteng Spellwijk,  Vihara Avalokitesvara, Masjid Agung Banten, dan Masjid Pacinan Tinggi. Berikut ini keterangan situs tersebut :

Benteng Spelwijk
Benteng buatan Belanda, yang dibangun untuk pertahanan. Konon dahulu dilengkapi ribuan meriam.

Sekarang tinggal reruntuhannya saja, dimana anak-anak akan senang bermain perang-perangan disana.

 

Masjid Agung Banten

Wajib kunjung! Lihat bangunan menaranya yang khas. Tapi yang unik masjid ini punya dua kubah. Konon salah satu kubahnya terbang berpindah dari Masjid Agung Cirebon! Dan memang masjid tua di Cirebon itu tidak punya kubah 😀

 

Vihara Avalokitesvara
Ini adalah salah satu vihara tertua di pulau jawa. Tapi yang berdiri sekarang sudah bukan lagi bangunan aslinya. Vihara ini dibangun untuk para pengikut istri Syarif Hidayatullah, yang memang beristrikan seorang Putri Cina. Salah satu bukti toleransi umat beragama di zaman dahulu.

Masjid Pacinan Tinggi

Kondisi bangunan masjid yang aslinya dibangun dengan arsitektur China bernuansa lokal ini memang sangat mengenaskan. Sebagaimana terlihat dalam foto, hanya inilah sisa reruntuhan yang ada. Namun situs ini merupakan salah satu bukti akulturasi antara kaum pendatang dengan penduduk lokal.

photo courtesy of mbak Dien

 

Nah, setelah puas berwisata, kami pun kembali ke jalan tol Merak dan mengarah ke exit tol Cilegon Timur (hati2 kena macet parah kalau keluar di Cilegon Barat). Setibanya di jalan raya Anyer, kami pun mampir di Mercusuar Anyer (Anyer Lighthouse) yang terletak tak jauh dari pasar Anyar. Mercusuar Anyer ini merupakan saksi biksu gelombang tsunami saat Krakatau meletus 27 Agustus 1883.

 

 

 

Dan setelah puas berjalan-jalan, akhirnya kami tiba di lokasi penginapan pas jam makan siang. Lalu kami menghabiskan waktu selama 2 hari dan 2 malam untuk berkumpul bersama keluarga dan melakukan berbagai aktivitas pantai disana, seperti berenang, memancing, banana boat, dan lain sebagainya. (Note: white sandy beach di lokasi inipun sudah hampir habis…)

Kami bertolak kembali ke Jakarta pada hari Senin siang, namun kali ini dengan rute yang berbeda. Dari Mutiara Carita kami mengarah ke kota Labuhan yang hanya berjarak sekitar 10km untuk menikmati makan siang maknyus di Rumah Makan Bu Entin yang terletak hanya 200m dari pasar labuhan. Rumah makan ini menyediakan menu aneka seafood bakar lezat dengan harga yang sangat sangat sangat murah!! 😀

(must try: otak-otak bakar dan sate manis) 😉

Sluurpp... yummyyy...

Setelah kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta melewati kota Pandeglang dan Serang. Bagi yang senang konvoy atau touring bareng, treknya sangat menarik nih, tidak terlalu ekstrim tapi juga tidak mengantukkan. Tak jauh dari kota Pandeglang, jangan lupa untuk mampir ke Duren Jatuhan Haji Arif (DJHA), dimana kita bisa langsung menikmati duren berbagai ukuran dengan rasa lezat dan harga murah tentunya! DJHA ini memiliki fasilitas lapangan parkir yang luas, toilet bersih dan mushalla sehingga nyaman untuk beristirahat sejenak. Setelah puas memborong duren, kami kembali ke Jakarta melalui gerbang tol Serang Timur. Oh ya, jangan lupa mampir ke toko oleh2 sebelum gerbang tol, untuk membeli sate bandeng khas Serang yang terkenal itu.

Tak disangka yah, ternyata Banten memiliki berbagai spot yang menarik untuk berwisata! mulai dari wisata sejarah, pantai, hingga wisata kuliner! Totally worth to try! Dibawah ini adalah hasil hunting foto di pantai Carita, yang hanya menggunakan kamera ponsel 😉

Krakatoa Sunrise

Lonely Broken Bridge

Angry Sea at Dusk

 

Special thanks to mbak Dien Tj untuk foto mercusuarnya dan masakannya waktu di Carita, @ari_suryaputra untuk info wisata sejarahnya, dan om @auliamondi untuk info wisata kuliner serta menjadi “GPS” sepanjang perjalanan, hehehe…

See you on the next trip!








%d bloggers like this: