Doa Ketika Tertimpa Musibah

9 02 2012

Advertisements




Doa Penawar Hati yang Galau

9 02 2012





Doa Kemudahan Semua Urusan

9 02 2012





Doa Ketika Dipuji Orang

9 02 2012





Doa Perlindungan Bagi Anak

9 02 2012





Petak Sembilan: Saksi Sejarah Asimilasi Kebudayaan

6 02 2012

Pada kesempatan imlek kemarin, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah Chinatown di kawasan Jakarta Kota, yg meliputi Petak Sembilan hingga kawasan niaga Glodok (dahulu dikenal dengan Pancoran). Walaupun demikian, tulisan ini tidak hendak mengupas ansikh tentang imlek itu sendiri, karena pastinya sudah banyak sumber yang lebih lengkap daripada saya. šŸ™‚ Dalam tulisan ini, saya hendak menulis sedikit tentang asimilasi kebudayaan yang terjadi di kawasan Chinatown ini.

Salah satu hal yang membuat kawasan ini extraordinaryĀ adalah kentalnya jejak asimilasi budaya antara budaya Tionghoa dengan budaya lokal.

Gedung ini misalnya. Ada yang bisa nebak nggak ini gereja atau kelenteng/ vihara? Ya, ini adalah gereja dengan nuansa Tionghoa yang sangat kental, dimana pada saat saya mengunjungi lokasi ini sedang dilakukan misa imlek dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Tionghoa.

 

 

Pat Kwa

 

Struktur bangunan di kawasan ini juga berbeda dengan kawasan lainnya baik di Indonesia maupun di China. Adanya perpaduan harmonis antara arsitektur lokal, Hindia Belanda dan Tionghoa dalam tiap bangunan menjadi daya tarik tersendiri pada kawasan ini. Struktur bangunan kokoh ala pemerintahan kolonial dengan penutup atap untuk daerah tropis ini dipermanis dengan sentuhan ornamen Tionghoa yang hadir di setiap bangunan.

Courtesy of @sandi_wahyudi 's photos

 

Asimilasi dan akulturasi budaya ini tidak berhenti sampai disini saja. Adanya antrian yang sangat panjang di pelataran vihara ini menunjukkan bahwa budaya bagi-bagi angpao ketika imlek ini sudah sangat dikenal dan diikuti pula oleh penduduk lokal yang terdiri dari golongan tidak mampu (walaupunĀ miris banget liatnya!).

 

Kemajemukan penduduk di Indonesia, khususnya di Jakarta ini merupakan asset tersendiri dalam aspek sosial-budaya bangsa kita. Seyogyanyalah kita memelihara kemajemukan itu dengan memupuk kembali toleransi dan hormat-menghormati antar kelompok masyarakat yang berbeda, yang sudah lama nyaris tidak bisa ditemukan di wilayah perkotaan.

Inside the vihara








%d bloggers like this: