Melaka dan Daya Tariknya bagi Si Kecil

12 04 2012

Tulisan ini tidak akan banyak membahas mengenai sejarah ataupun asal-usul kota Melaka, karena tulisan mengenai hal tersebut dapat anda temukan di berbagai situs, seperti situs resmi ini dan ini . Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya travelling dengan si kecil ke kota yang indah ini dan bagaimana membuat mereka nyaman selama berada disana.

Bagi anda yang sudah pernah mempelajari atau berkunjung ke kota Melaka di Malaysia mungkin berpikir bahwa kota ini tidak atau kurang sesuai bagi anak-anak. Ya, Melaka merupakan sebuah “Kota Warisan Dunia” yang dijaga kelestariannya dengan sangat baik oleh pemerintah Malaysia dan UNESCO, yang didalamnya terdapat sangat banyak situs-situs bersejarah, dan sangat minim MALL atau pusat perbelanjaan. Bagi si kecil yang terbiasa dengan hiruk pikuk kota dan pusat perbelanjaannya, Melaka bisa menjadi “bencana” bagi mereka, atau malah menjadi oase yang menghadirkan kesan berbeda dalam kehidupan mereka. Ini tergantung kepada kita, para orangtua.

Tetep milih hotel yang "unik"

Flashpacking atau backpacking dengan anak-anak bukan merupakan hal yang mustahil dilakukan. Kita hanya perlu membuat perencanaan yang matang, sehingga mereka tetap merasa nyaman, namun budget tetap terkendali. Setelah lelah menempuh perjalanan jauh dari Indonesia (kami naik bus dari LCCT menuju Melaka, list bus ke Melaka bisa dilihat di sini), maka kami langsung menuju ke hotel dengan menggunakan taksi dari lokasi bus berhenti. Kami sengaja memilih hostel dengan fasilitas lengkap dan memesan kamar berjenis family room, dengan harga yang sangat terjangkau. Bagi anda keluarga muslim, sangat disarkan untuk mencari penginapan di daerah Jl. Bunga Raya – Jl. Bunga Raya Pantai, karena lokasi ini merupakan lokasi terdekat dengan berbagai situs dan juga dekat dengan pusat kuliner halal (agak susah mencari tempat makan halal disini).

Cocok untuk main perang-perangan

Berjalan-jalan bersama si kecil untuk menyusuri pusat kota Melaka pun tidak bisa dilakukan secara sekaligus, walaupun lokasinya berdekatan. Jadi di sore hari itu kami hanya mengunjungi Church of St. Francis Xavier, Christ Church dan bermain perang-perangan di reruntuhan benteng Portugis, serta tak lupa bermain bersama burung dara di boulevard di persimpangan Little India. Setelah puas berjalan-jalan dan bermain, maka kamipun kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak.

Malay Traditional House

Melaka di malam hari memberikan kesan yang sangat berbeda dengan siang harinya. Menyusuri Melaka River malam itu bagaikan berada di Venesia dengan nuansa eksotisme Asia yang sangat kuat.  Naiki perahu di dermaga di ujung jalan Merdeka dan nikmati perjalanan malam di atas Melaka River hingga tiba di Kampung Morten/ Villa Sentosa, lalu turunlah disana.  Kampung Morten ini bukanlah sembarang kampung, karena kampung ini juga merupakan world heritage yang dilestarikan.

Memasak bersama untuk acara pernikahan tradisional

Para penduduk asli masih tinggal di kampung ini bersama sanak keluarganya dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti halnya daerah lainnya. Hanya bedanya, mereka masih mengenakan busana tradisional, melestarikan bentuk asli rumah tradisional yang mereka tempati itu serta mengijikan kehidupannya menjadi objek wisata, tentunya dengan imbalan berupa berbagai fasilitas gratis dari pemerintah seperti penyediaan listrik dan air minum oleh pemerintah. Rumah-rumah yang berdiri di Kampung Morten ini rata-rata dibangun di awal abad ke-20 dan masih bertahan dalam bentuk aslinya hingga kini.  Keramahan penduduk lokal pun terlihat saat saya melihat mereka sedang bergotongroyong melakukan persiapan untuk sebuah acara hajatan, dimana kemudian mereka mengundang saya untuk ikut makan bersama mereka. Nilai-nilai positif dari perilaku masyarakat Kampung Morten yang dialami secara langsung oleh si kecil ini tentunya menjadi pelajaran budi pekerti bagi mereka yang sangat berguna dan tidak diperoleh di sekolah.

 

Setelah beristirahat semalaman, keesokan paginya kami kembali berjalan-jalan ke pusat kota untuk mengunjungi beberapa situs lainnya. Setiap kami tiba di sebuah situs, tak lupa saya sampaikan informasi mengenai situs tersebut ke si kecil (thanks to mas google! 😀 ), sehingga mereka juga mengenali dan (akhirnya) mencintai sejarah dan budaya.

 

Jonker Walk, Melaka's Chinatown

Oleh karena kami berencana untuk bertolak ke Kuala Lumpur pada siang hari itu, maka agenda jalan-jalan pagi pun kami persingkat, supaya anak-anak tidak terlalu lelah di perjalanan. Bagi anda penggemar barang antik, pastikan anda langkahkan kaki anda ke Jonker Walk (Jalan Hang Jebat) untuk membawa pulang berbagai pernik antik dan unik, tentunya dengan bargain price 😉 . Jangan lupa cicipi chicken rice ball yang terkenal itu di sudut Jonker Walk ya.. (non-halal restaurant). Pastikan juga anda mencicipi ikan asam pedas yang benar-benar maknyus di ujung Jl. Bunga Raya Pantai (halal food).

Nah demikianlah petualangan saya kali ini bersama si kecil di Melaka, World Heritage City. Pengalaman ini benar-benar berkesan bagi mereka, yang masih terus mereka bicarakan hingga hari ini.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: