Sawarna, Laboratorium Alam bagi Anak

24 11 2012

“Ke Sawarna? Sama anak-anak? Yakin?”

Pertanyaan semacam itulah yang kami dengar saat orang-orang menanggapi rencana kami pergi ke Sawarna saat long weekend kali ini. Walaupun perjalanan dan kondisi alamnya cukup berat bagi anak-anak, kami tetap bertekad untuk pergi ke Sawarna, dimana anak-anak bisa belajar banyak hal melalui pengamatan langsung terhadap alam.

Sawarna adalah nama sebuah desa di Kecamatan Bayah, provinsi Banten. Waktu tempuh ke Sawarna kira-kira mencapai 7 jam perjalanan dari Jakarta lewat rute Ciawi – Cibadak – Pelabuhan Ratu – Bayah, dan 9 jam perjalanan lewat rute Serang – Pandeglang – Malingping – Bayah. Karena berangkat dari Cibubur, maka jelas kami memilih rute Pelabuhan Ratu, tapi mampir terlebih dahulu untuk wisata kuliner sarapan bubur ayam Bunut yang terkenal itu di depan alun-alun kota Sukabumi. Hanya dengan 12,500 rupiah per porsi, perut yang kosong langsung terasa hangat dan kenyang 🙂 .

Pantai Cisolok, Pelabuhan Ratu

 

Perjalanan menyusuri pantai selatan Pelabuhan Ratu memang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan di tempat kami beristirahat untuk makan siang di atas tebing pantai Cisolok, pemandangannya begitu indah sehingga kami merasa betah untuk berlama-lama berada di Pondok Lesehan yang menyuguhkan menu utama seafood itu. Setelah memenuhi isi perut hanya dengan Rp 25,000 per orang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Sawarna.

 

Setibanya di Sawarna, kami melewati jembatan gantung yang terkenal itu untuk memasuki Desa Sawarna. (Maaf ya nggak ada fotonya, karena sibuk memegangi si kecil yang ketakutan melewati jembatan yang bergoyang-goyang, hehehe…) Mobil tidak bisa melewati jembatan tersebut, jadi harus parkir di tempat parkir yang disediakan lalu masuk ke desa dengan berjalan kaki atau naik ojek. Dari jembatan itu ke pantai terdekat (Pantai Ciantir atau Pantai Pasir Putih) kira-kira 1,5km. Desa Sawarna merupakan perpaduan antara daerah pegunungan, persawahan, perkebunan dan pantai. Hal ini membuatnya menjadi obyek wisata dan pembelajaran alam yang unik.

Tampak depan Villa Batara

Kami menginap di Villa Batara dengan harga 150 ribu rupiah per orang, sudah termasuk fasilitas makan 3x/ hari, dispenser air panas dan kopi/ teh. Jarak dari penginapan kami ke Pantai Ciantir kira-kira 200m. Di dalam wilayah Desa Sawarna banyak terdapat penginapan (homestay), namun kesemuanya itu tanpa AC, karena listrik agak sulit di daerah tersebut dan juga cuacanya tidak panas, sehingga para tamu sudah cukup merasa nyaman dengan kipas angin (lagipula, siapa yang mau berlama-lama didalam kamar dan melewatkan keindahan pantai disana? 😉 ). Tapi kalau anda ingin penginapan yang ber-AC, maka anda dapat mencari penginapan di luar Desa Sawarna, yakni di pinggir jalan raya Bayah. Penginapan yang di pinggir jalan raya ini rata-rata menyediakan fasilitas parker gratis di depan bungalow, AC, televisi dan air panas untuk mandi. Namun, selain lebih mahal, lokasinya tentu lebih jauh dari pantai, sehingga untuk bolak-balik mungkin anda harus menggunakan jasa ojek.

 

Ciantir Beach: the private beach 🙂

Siang itu kami habiskan untuk bermain-main di Pantai Ciantir. Seluruh rasa penat pada hari itu terbayar lunas di pantai ini. Pasir putihnya yang lembut, pantai yang luas dan bersih membuat anak-anak betah untuk berlama-lama bermain ombak dan pasir. Pantai ini merupakan surga bagi para surfer karena ombaknya yang tinggi dan pantainya yang aman dari batu karang membuat mereka bisa melakukan berbagai manuver surfing.

 

 

 

Sunset at Tanjung Layar Beach

Setelah sore hari, kami berjalan menyusuri pantai tersebut sejauh 2km menuju ke Pantai Tanjung Layar untuk menikmati sunset. Pantai yang terkenal akan batu layar dan barisan karang pemecah ombak ini merupakan surga bagi para fotografer yang hendak hunting foto sunset. (tips: jika anak anda tidak terbiasa berjalan jauh, sebaiknya anda menggunakan jasa ojek).

 

 

 

Keesokan paginya, tadinya kami hendak kembali menyusuri pantai sejauh 3km untuk menikmati sunrise di Pantai Legon Pari dan eksplorasi Gua Lalay. Namun karena sepertinya anak-anak terlalu lelah, maka pagi itu kami kembali bermain di pantai Tanjung Layar dan Pantai Ciantir. Jika air sedang surut, kita bisa berjalan menyeberangi laut untuk berfoto dan eksplorasi di sekitar batu layar. Jangan lupa untuk memegangi anak-anak saat menyeberang, karena ada beberapa tempat yang licin. Di area batu layar ini banyak terdapat binatang dan tumbuhan koral yang tentunya sangat menarik untuk dieksplorasi oleh anak-anak sebagai pembelajaran bagi mereka.

activity on the beach

 

Sawarna Rice Field

Coconut garden on the way to the beach

 

Tanjung Layar Beach

 

 

 

 

 

 

Karang pemecah ombak di balik batu layar

 

 

 

 

 

 

Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari perjalanan kali ini. Jika anak-anak belajar tentang dunia sains secara langsung, maka inilah yang kami pelajari, mudah-mudahan bermanfaat yaa…:

  1. Memberi obat anti mabuk perjalanan bagi anak dan sedia kantong plastik kosong sebelum melakukan road trip, khususnya ke Sawarna, karena jalanan menuju ke pantai biasanya berkelok-kelok tajam.
  2. Membawa buku pengetahuan/ ensiklopedi yang berisi pengetahuan seputar daerah yang akan dijelajahi untuk pembekalan bagi anak. Kali ini saya membawa buku tentang pantai laut, dimana sebelumnya kami membaca bersama terlebih dahulu barulah kemudian melakukan observasi secara langsung di pantai yang merupakan laboratorium alami. Pada liburan kali ini, anak-anak belajar tentang fenomena tebing dan pantai, pasang-surut air laut serta kehidupan pantai koral.
  3. Selalu memastikan anak-anak berada dalam jangkauan ketika sedang berada di pantai, karena kita tidak akan pernah tahu fluktuasi besarnya ombak.
  4. Fleksibel dengan rencana semula, bersedia berkompromi dengan kondisi anak dan selalu siap dengan rencana cadangan.
  5. Tetap sedia dana cadangan secukupnya walaupun dalam rangka liburan hemat.

Atas: pemandangan depan saat bersantai di saung pinggir Pantai Ciantir
Bawah: pemandangan belakang saung





Main Layang-Layang? Ya di Museum Layang-Layang!

3 11 2012

Liburan akhir pekan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bagi anda yang belum memiliki rencana untuk akhir pekan ini dan jenuh dengan mall dan hiruk pikuk kota, berwisata ke Museum Layang-Layang ini merupakan pilihan seru yang bisa dicoba oleh anda sekeluarga! Museum Layang-Layang ini terletak di Jl. H. Kamang no. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Memang tidak terlalu mudah untuk menemukan lokasi ini. Jika anda berkendara dari arah RS. Fatmawati menuju arah Pondok Labu, maka setelah pertigaan Giant hypermarket anda bersiap-siap untuk belok ke kanan ke Jl. H. Kamang. Ada papan petunjuk lokasi persis di depan gang.

 

 

Di dalam museum unik bernuansa etnik ini, pertama-tama kita harus membeli tiket masuk seharga Rp 10,000 untuk menikmati berbagai fasilitas dan kegiatan di sana. Kegiatan diawali dengan menonton film mengenai layang-layang, yang dapat menambah pengetahuan kita baik mengenai jenis layang-layang, asal usul, cara pembuatan, bahkan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan dengan layang-layang seperti olahraga, ekshibisi maupun upacara adat.

 

 

 

Berbagai layang-layang unik dan menarik

Setelah puas menonton, kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling ke dalam museum yang terletak di bagian dalam pendopo utama. Di dalam museum ini terdapat berbagai macam layang-layang yang unik dan menarik dari berbagai masa, daerah dan negara. Ada kegiatan menarik juga yang dapat dilakukan di dalam museum, yakni mencoba berbagai peralatan yang dipergunakan untuk olahraga layang-layang (note: anak-anak sangat menyukai kegiatan ini!). Dari kegiatan ini kita akhirnya akan bisa mengetahui darimana sebenarnya asal usul layang-layang di dunia.

Penasaran kan? hehehe…

 

 

 

Membuat Layang-Layang

Seusai berkeliling museum, saatnya untuk melakukan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu: membuat layang-layang diamond! Tak usah khawatir jika anda belum pernah membuat layang-layang sebelumnya. Guide yang tadi menemani kita saat berkeliling museum masih akan mendampingi dan membantu selama proses pembuatan layang-layang sampai selesai. Semua perlengkapan yang diperlukan mulai dari layang-layang kertas, gunting, lem, crayon dan benang layang-layang pun disediakan oleh pihak museum. Setelah selesai, anda bisa langsung bermain dengan layang-layang buatan sendiri di pelataran yang disediakan bersama keluarga tercinta. Lebih puas dan menyenangkan!

 

Toilet Unik dan Resto Taman

Jangan lupa untuk mengunjungi tempat pembuatan berbagai jenis layang-layang dan keramik yang tersebar di beberapa pendopo. Di dalam area museum ini juga terdapat fasilitas mushalla, toilet dan restoran taman yang bersih, unik dan bernuansa etnik. Jadi, tidak perlu biaya besar untuk bersenang-senang bersama keluarga tercinta kan? See you there!








%d bloggers like this: