Jangan Mudah Percaya! (part 2)

12 12 2012

Hasil diskusi dengan teman pagi ini:
Pembodohan generasi muda berupa penjejalan materi pelajaran yg terlalu banyak (sehingga mengurangi kualitas otak utk bernalar), acara2 TV (dan iklan konsumtif) yg tidak mendidik & tidak bermoral, serta supply makanan tdk bergizi berupa junk food itu sesungguhnya merupakan konspirasi yg bertujuan kepada pengkerdilan bangsa Indonesia di lingkungan internasional di masa datang.

Sebagai perbandingan, kurikulum SD di Indonesia itu setara dengan kurikulum SMP di negara2 yang lebih maju, bahkan beberapa materi dalam kurikulum SMA di Indonesia itu baru diajarkan di universitas untuk jurusan tertentu! Anak-anak SD di Amerika Serikat baru belajar mengeja bahasa Inggris, dimana bahasa tersebut merupakan mother tongue mereka, sedangkan anak SD di Indonesia sudah belajar bahasa Inggris, walaupun untuk pemahaman bahasa Indonesia saja mereka masih terbatas. Bernalar dalam bahasa Indonesia saja mereka belum bisa maksimal. Dengan kata lain, sistem pendidikan yang sekarang ini bukannya mencerdaskan bangsa, tapi malah membodohi bangsa.

Benarkah hipotesa tersebut? Kita bisa buktikan dengan mengawasi sendiri perkembangan anak2 kita, jangan menyerahkan sepenuhnya kepada institusi yg tidak mengutamakan perkembangan nalar & akhlak.

Jangan mudah percaya dengan sistem pendidikan, karena bagaimanapun juga sistem itu dibuat oleh manusia, yang mempunyai tujuannya masing-masing. Sistem yang paling terpercaya bagi setiap orang adalah sistem pendidikan yg kita susun untuk buah hati kita, karena tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak2nya.

20121212-110715.jpg

Advertisements




Jangan mudah percaya!

4 12 2012

Selain sejarah tentang Palestina dan Israel, video tersebut juga menceritakan kejatuhan khilafah Islam di Turki yang menghancurkan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah, sehingga kini negara-negara tersebut (kecuali Saudi Arabia) menggunakan sistem sekuler dalam hukum dan pemerintahannya.

Masih teringat di kepala saya, pelajaran sejarah internasional di bangku sekolah tentang gejolak di Timur Tengah pasca perang dunia. Hal yang harus dihapalkan berulang kali adalah bahwa Mustafa Kamal Pasha adalah pahlawan negara Turki dalam menumpas pemerintahan yang lalim. Padahal, ternyata justru dia bekerjasama dengan Inggris untuk menggulingkan khilafah Islam yang pada saat itu berkedudukan di Istanbul, sehingga kemudian Turki “diberi kemerdekaan” oleh Inggris dengan Mustafa sebagai presidennya. Dengan sistem sekuler tentunya.

Mengerikan saat saya mengetahui betapa pemerintah dapat memberikan pemahaman2 tertentu untuk membentuk pola pikir kepada generasi muda melalui materi pembelajaran di sekolah. Fakta sejarah dapat diputarbalikkan begitu saja untuk membentuk opini peserta didik mengenai suatu hal tertentu.

Contoh kasus tersebut tentunya menjadi refleksi bagi saya sebagai orangtua, bahwa saya tidak boleh cuek dengan pelajaran anak-anak saya di sekolah. Semua buku pelajaran harus saya baca back to back. Saya juga harus kritis terhadap standar kompetensi yang ditentukan oleh Kemendiknas.

Intinya, saya tidak boleh mudah percaya dengan program pendidikan pemerintah.

Sad but true.





Menggugat Nasionalisme

1 12 2012

20121201-210738.jpg

“INDONESIA!!!”

Malam ini teriakan itu begitu membahana dimana-mana, mulai dari stadion Bukit Jalil, timeline, sampai depan televisi di rumah. Seluruh rakyat Indonesia begitu kompak membela timnas tercinta yang sedang berlaga di Kompetisi Sepak Bola piala AFF di Malaysia, atas nama nasionalisme.

Seluruh rakyat Indonesia, baik penggemar sepakbola maupun yg tidak suka sepakbola (seperti saya) setia menonton & ikut mendoakan kemenangan timnas Indonesia, atas nama nasionalisme.

Seluruh rakyat Indonesia, baik pendukung PERSIJA, PERSIB, PERSEBAYA maupun tim lainnya di liga Indonesia malam ini meneriakkan satu nama, INDONESIA, atas nama nasionalisme.

Mengharukan saat semangat nasionalisme bisa menjadi pemersatu bangsa seperti yang kita lihat malam ini. Mengharukan saat begitu banyak cinta terhadap bangsa & negara ditunjukkan malam ini.

Tapi…
Dimanakah nasionalisme itu saat terjadi kerusuhan di Sampang?
Dimanakah nasionalisme itu saat terjadi bunuh-membunuh di Lampung?
Dimanakah nasionalisme itu saat seseorang menikam saudaranya?
Dimanakah nasionalisme itu saat pelaku korupsi beraksi?
Dimanakah nasionalisme itu saat tawuran pelajar?
Dimanakah nasionalisme itu saat kita tak lagi ingat bahwa kita adalah saudara?

Nasionalisme tidak dibuktikan dengan berteriak-teriak di stadion.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan menghujat negara lain.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan bernyanyi.
Nasionalisme tidak dibuktikan dengan bendera, bahasa ataupun simbol lainnya.

Nasionalisme dibuktikan dengan cinta. Cinta terhadap Allah dan ciptaanNya.








%d bloggers like this: