Zuhud: Cara Mudah Menjadi Kaya

31 01 2013

ImageTeringat pemandangan beberapa hari yang lalu di jalanan, yaitu seorang ayah, ibu dan dua orang anaknya sedang berboncengan sambil tertawa lepas di sebuah sepeda motor bebek sederhana selepas mengikuti pengajian di masjid sebuah perumahan elit di daerah Cileungsi, Bogor. Terlepas dari kenyataan bahwa tindakan berboncengan 4 orang itu melanggar peraturan lalu lintas, saya sungguh kagum terhadap kesederhanaan keluarga itu yang “hanya” mengendarai motor sehingga menjadi pemandangan kontras di tengah mobil-mobil bagus di perumahan tersebut.

Walaupun “hanya” mengendarai sebuah motor bebek, bukan berarti mereka orang yang kekurangan lho, justru mereka adalah orang yang kaya, bahkan lebih kaya daripada kita yang selalu merasa tidak puas dengan harta yang dimiliki. Mereka tidak merasa perlu menggunakan mobil yang mewah, karena toh motor saja sudah cukup bisa mengakomodir kebutuhan mereka. Kebutuhan ya, bukan keinginan. Keluarga tersebut mungkin saja mampu membeli mobil, tapi tempat usaha sang ayah sebagai seorang businessman tidak jauh dari rumah. Si ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak suka meninggalkan rumahnya tanpa alasan syar’i, dan anak-anaknya yang masih kecil bersekolah tidak jauh dari rumahnya sehingga cukup dengan berjalan kaki atau bersepeda saja. Kelebihan penghasilan mereka gunakan untuk tabungan masa depan dan bersedekah, yang merupakan tabungan amal seorang muslim untuk hari kiamat nanti.

Jadi berdasarkan kebutuhan hidup mereka, apakah sebuah motor saja cukup? Ya tentu saja. Apakah keluarga itu ingin menambah kepemilikan sebuah mobil?  Nah dari pertanyaan tersebut sudah terlihat bahwa hal ini merupakan keinginan, karena kebutuhan kendaraan mereka sudah tercukupi dengan motor tersebut. Mereka sudah merasa tercukupi dengan terpenuhinya semua kebutuhan pokok mereka, dan mereka bersyukur kepada Allah karenanya, sehingga dengan ini mereka adalah orang-orang yang kaya, yang hidup berkecukupan, semoga Allah senantiasa merahmati keluarga tersebut.

Inilah yang dinamakan zuhud, yakni meninggalkan hal-hal (yang bersifat mubah/ dibolehkan) yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

Dari Sahl bin Sa’ad beliau mengatakan,

Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkanlah kepadaku suatu amalan jika aku mengamalkannya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaiku dan manusia juga mencintaiku?” Maka beliau menjawab, “Zuhudlah dari perkara dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang ada pada manusia maka manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Wallahu a’lam bishshowab.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: