An Eye For An Eye???

22 06 2012

Beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang menghebohkan warga kampung sekitar tempat tinggal kami. Pada suatu pagi ditemukan puluhan kambing peliharaan mereka lenyap, dengan hanya tersisa sebagian kecil dari kambing – kambing tersebut saja.

Motif kejahatan diduga adalah balas dendam. An eye for an eye.

Berita kejahatan dengan motif seperti ini sering kita jumpai akhir-akhir ini di berbagai media. Dahulu kita (mungkin saya yah tepatnya 😀 ) hanya mendengar tentang balas dendam ini di film mafia Italia yang ngetop hingga ke sekuel keduanya pada waktu itu, dan di film-film kungfu (masih inget kan, kalimat Jacky Chan “You kill my brother, I’ll kill you twice!“). Saat itu saya benar-benar merasa bahwa balas dendam itu sama sekali bukan hal yang baik, pun bukan merupakan sifat bangsa Indonesia. Jadi kalau sekarang kejahatan dengan motif balas dendam ini marak terjadi, bahkan kadang mendapat “alasan pemaaf”, maka ini sungguh merupakan bencana bagi kita, bangsa Indonesia. Bayangkan apa yang akan dipelajari oleh adik-adik kita, anak-anak kita yang kini masih mencari jati diri mereka, jika hal-hal seperti ini masih terjadi di depan mata mereka.

 

Ya, kadang tanpa kita sadari, kita juga melakukan hal tersebut, dengan skala yang jauh lebih kecil tentunya. Sebagai contoh, saat kita diperlakukan dengan tidak/ kurang adil oleh saudara atau bahkan pasangan kita, lalu kita membalas perlakuan tersebut dengan mendiamkan atau mungkin bertengkar dengan mereka. Tanpa kita sadari, si anak melihat, mengamati dan merekamnya dalam benak mereka. Semakin banyak mereka melihat hal seperti ini, bukan tidak mungkin akan timbul judgement dalam diri mereka bahwa tidak mengapa membalas perbuatan buruk dengan perbuatan yang buruk juga. Subhanallah.

 

Tindak balas dendam ini timbul karena adanya amarah dalam diri yang “merasa” tersakiti. Apakah sifat seperti ini yang kita inginkan untuk tumbuh dalam diri adik-adik dan anak-anak kita? Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam al-Qur’an agar kita senantiasa membalas perbuatan buruk dengan kebaikan?

 

 

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fussilat : 34)

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga sudah mewasiatkan larangan marah ini dengan bersabda,  “Janganlah kamu marah!” Dan perkataan ini diulang sampai 3 kali. (H.R. Bukhari)

Nah, lalu bagaimana kita mengobati amarah dan menghindar dari perbuatan balas dendam ini? Berikut ini adalah cara-cara yang dianjurkan, diambil dari situs ini :

1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
4. Dianjurkan berwudhu’.[25]
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirahat.
8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
Wallâhu a’lam.

Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindunganNya.

Barakallahu fiikum.








%d bloggers like this: